1. Kebersihan
Jujur, saya merasa iri dengan kebersihan negara ini. Saya menempatkan kebersihan di kawasan pertama yang harusnya sanggup kita tiru. Karena paling sederhana dan mudah dilakukan, tidak membutuhkan biaya yang mahal hanya butuh kesadaran masing-masing orang. Jepang masuk dalam jajaran negara terbersih di dunia, dan sangat lezat dipandang. Meskipun di Tokyo dan kota-kota lainnya di Jepang tidak pernah ada goresan pena “Dilarang Buang Sampah di Sini”, sebagaimana yang sering ditemui di Jakarta atau kota-kota lain di Indonesia. Namun dipastikan tidak ada sampah yang tercecer sembarangan. Bahkan sampah sekecil sobekan kertaspun tak saya lihat di pinggir jalan. Mungkin budaya aib yang telah mendarah daging turut mendorong masyarakat Jepang untuk tidak membuang sampah sembarangan dan selalu berusaha hidup bersih. Seperti yang saya rasakan ketika menginap di hostel ala backpacker, meskipun kecil tapi sangat bersih, berasa rumah sendiri.
Tempat sampah selalu dipisahkan menurut jenisnya, sampah sisa makanan, botol, plastik, dan koran bekas atau kertas. Saya pun kadang butuh waktu sejenak berpikir untuk meletakkan sampah ke keranjang yang mana. Malu kan kalau salah? Karena kalau hingga ada sampah yang salah masuk ke keranjang yang bukan kategorinya, katanya petugas sampah tidak akan mengambilnya.
Ini favorit saya selama di Jepang, yaitu transportasi yang nyaman. Transportasi umum memegang peranan penting untuk berpindah dari satu kawasan ke kawasan yang lain terutama bagi turis backpacker. Di ibukota Jepang, Tokyo, sebagai salah satu kota megapolitan dunia, jaringan kereta api ialah alat transportasi utamanya. Itulah sebabnya jalan raya menjadi lengang meskipun di jam-jam sibuk kantor, berbeda sekali ya dengan Jakarta?. Jepang mempunyai jaringan kereta bawah tanah maupun layang yang sangat kompleks. Baik yang dioperatori oleh pemerintah maupun swasta. Seperti di Tokyo ini, jaringan kereta bawah tanah atau subway dioperatori oleh Tokyo Metro Subway dan Toei Subway. Meskipun berbeda namun saling terhubung dan tak perlu membeli tiket yang berbeda jikalau naik dan turun di stasiun yang berbeda operatornya.
Jaringan kereta api yang berada di atas permukaan tanah dioperasikan oleh Japan Rail (JR) milik pemerintah Jepang, yang kalau di Indonesia mirip mirip KRL Commuterline. Di sini namanya JR Yamanote Line. Kerennya tuh tidak ada lintasan kereta api yang bersinggungan sebidang dengan jalan raya. Kaprikornus resiko kecelakaan lebih kecil kan?.
Yang menciptakan saya berdecak kagum juga ialah jadwal kereta yang tidak pernah telat sedetikpun. Ya, itu salah satu yang menjadi perhatian saya di sana, kalau lebih cepat dari jadwal justru ada. Karena meskipun kereta Subway maupun Yamanote line jumlahnya sangat banyak, tetap ada jadwal keberangkatan yang jelas. Bahkan kita sanggup mengunduh aplikasi gratis di perangkat handphone kita berupa aplikasi Tokyo Subway Navigation, khusus subway di Tokyo. Alhamdulillah memakai bahasa Inggris dan praktis. Di aplikasi ini kita hanya memasukkan nama stasiun asal dan stasiun tujuan, kemudian keluarlah informasi berupa tarif tiket yang harus kita beli, stasiun transit (jika memang harus transit), estimasi waktu perjalanan dan jadwal keberangkatan kereta tercepat dari waktu kita mengakses aplikasi, bahkan semenit ke depan. Tarif kereta api di Jepang memang berlaku progresif sesuai dengan jarak tempuh.
Aplikasi kedua, yang sangat membantu ketika di Jepang ialah Hyperdia, sanggup juga diakses melalui browser www.hyperdia.com. Semua informasi jadwal dan keberadaan jaringan kereta dan bis Jepang mulai dari JR Line, Limited Express maupun Shinkansen sanggup diakses di sini, termasuk tarifnya. Keren yaaa?.
Keliling kota naik bis juga tak kalah kondusif dan nyaman, ini saya rekomendasikan jikalau Anda berada di kota Kyoto. Karena banyak banget bis yang menjangkau semua kawasan wisata. Bis niscaya berhenti di semua halte dan ada informasi yang memberitahu nama halte selanjutnya termasuk kawasan penting apa yang ada di sekitar halte dalam bahasa Jepang dan Inggris. Meskipun tidak ada jalur khusus untuk bis di jalan raya, tapi tak ada bis yang saling menyalip, semua tertib dan teratur mengantri untuk berhenti di setiap halte. Dan yang saya suka ialah supirnya sangat ramah dan sabar menunggu penumpangnya naik maupun turun dan mengucapkan “Hai, arigato gozaimashita…” ke satu persatu penumpangnya yang turun.
3. Disiplin
Seperti yang pernah saya singgung sebelumnya, jadwal kereta dan bis sangat sempurna waktu, begitulah mungkin cerminan orang Jepang yang begitu menghargai waktu. Ketidak tepatan sedetik akan besar lengan berkuasa terhadap jadwal selanjutnya, itu sangat dihindari oleh mereka. Budaya antri juga sudah menempel di Jepang, ketika naik eskalator misalnya, dikala ramai otomatis terbentuk antrian tanpa saling serobot. Yang menarik, berdirilah di sebelah kiri jikalau Anda tidak terburu-buru dan hanya berdiri di eskalator untuk mempersilakan orang lain lewat di sebelah kanan. Tapi ini berlaku sebaliknya jikalau Anda sedang berada di kota Osaka, memang kelihatan asing lantaran masih dalam satu negara tapi berbeda.
4. Keramahan (Omotenashi)
Saya kira adegan di salah satu episode Kokoro no Tomo ketika Si Tomo menanyakan alamat ke orang di jalan ketika gres hingga Jepang yang kemudian diantar hingga tujuan itu hanya mitos, ialah salah besar. Saat saya keluar dari stasiun Asakusa, dan mondar mandir kebingungan mencari alamat hostel, tetiba seorang bapak menghampiri dan bertanya dalam bahasa Inggris. Spontan saya sodorkan alamat yang saya cari, kemudian ia menyuruh kami untuk mengikutinya, dan sampailah saya pada hostel yang kami cari. Di selesai pertemuan kami, ia bilang, “Have a nice day…”. Saya tidak akan pernah melupakan momen itu, bahkan saya masih ingat muka ramah bapak yang tadi sempat bertanya ihwal rencana perjalananku di Jepang. Itulah salah satu keramahan yang saya dapatkan di sana.
Seorang Indonesia yang saya temui di sana juga menceritakan hal yang sama, ketika ia kebingungan dan hanya sanggup bertanya dalam bahasa Inggris. Sementara lebih banyak didominasi orang Jepang tidak sanggup berbahasa Inggris, namun ketika ditanya mereka berusaha untuk membantu.
5. Teknologi
Dalam hal teknologi, Jepang sudah tidak perlu diragukan. Hampir segala segi kehidupan sudah tersentuh dengan kecanggihan. Namun yang perlu menerima perhatian ialah moral teknologi jikalau dikaitkan dengan moral kehiduan sehari-hari. Misalnya toilet yang gres pernah saya temui di Jepang. Sebagai salah satu kebutuhan fundamental sebagai makhluk hidup, kenyamanan toilet sangat diperhatikan di Jepang. Jika pada umumnya kloset hanya dilengkapi dengan alat pembersih badan dan penyiram air, maka di Jepang akan lebih dari itu. Terdapat banyak tombol yang berada di samping kloset yang sanggup dipakai untuk membersihkan badan dikala Anda buang air kecil, buang air besar, dan alat pengering sekaligus layaknya hairdryer untuk kepala. Selain itu juga ada pilihan tombol yang mengeluarkan bunyi palsu yang ibarat bunyi flush. Hmmm..menarik bukan? Orang Jepang juga populer suka menjaga tinggi privasi, makanya mereka aib jikalau bunyi yang terdengar waktu buang air terdengar orang lain, sehingga diciptakanlah toilet mirip ini.
6. Pelayanan Publik
Perhatian pemerintah Jepang terhadap kemudahan dan pelayanan publik patut ditiru. Dimulai dari pembangunan kemudahan umum sederhana, mirip trotoar yang sangat nyaman. Jalur pejalan kaki ini dibentuk cukup lebar dan juga diperuntukkan bagi pengendara sepeda. Tak ada yang berlubang, bersih, dan dibentuk hampir rata dengan jalan raya.
Hal lain juga saya rasakan ketika di stasiun, terminal dan bandara. Meskipun banyak yang mengantri, tidak pernah hingga terjadi antrian yang panjang. Pelayanan maksimal menjadi faktor utamanya. Sebagai turis asing saya pun merasa tidak menerima perbedaan perlakuan. Masuk ke dalam objek wisata misalnya, ada beberapa yang memerlukan tiket masuk tapi harganya tidak dibedakan turis lokal maupun turis asing. Contoh lain ialah ketika saya hendak membeli Kanto Pass di stasiun Ueno, saya ingat benar kalau pelayannya tidak sanggup berbahasa Inggris hanya bermodal brosur ia menjelaskan berapa jumlah yang harus saya bayar dan dokumen persyaratannya, maka saya pun pribadi menerima Kanto Pass. Dengan Kanto Pass ini para turis asing pemegang visa temporary visit sanggup memakai seluruh kereta dalam jaringan JR Line meng-explore area Kanto (Tokyo dan sekitarnya) termasuk Shinkansen! Saya benar-benar merasa dimanjakan.
7. Dedikasi Tinggi Terhadap Pekerjaan
Saat naik kreta JR Line, saya beberapa kali berada di gerbong paling depan persis di belakang ruang masinis. Di ruang kendali, masinis tidak bertugas sendirian tapi ditemani seorang yang lain. Namun meskipun mereka bertugas bersama, tak sekalipun mereka terlihat mengobrol, si masinis terlihat begitu fokus mengendalikan laju kereta.
Begitu juga dengan supir bis, petugas stasiun, polisi yang saya lihat selalu serius dalam menjalankan kiprah mereka dan memperlihatkan pelayanan maksimal dan tidak ketinggalan untuk selalu tersenyum.