BREAKING NEWS

Kabar Gembira Buat kamu yang ga sengaja kunjungi Blog ini !!!

jarang-jarang kamu bisa nemuin Harga SOUVENIR se Murah ini..

karena ini kami buat sengaja buat kamu yang ga sengaja berkunjung ke Blog kami dengan ulasan kami selain dari ulasan souvenir

Nah buat kamu yang tertarik dengan Harga-harga souvenir kami, bisa langsung hubungi whatsapp kami di 081296650889 atau 081382658900

caranya screenshoot atau sertakan link url souvenir yang kamu minati pada blog ini, kirimkan kepada kami di nomer yang sudah tertera dia atas

tanpa screenshoot atau link blog kami, kemungkinan kami akan memberikan harga jual yang ada pada toko kami yang cenderung lebih tinggi tentunya

Sunday, January 3, 2016

10 Hal Wacana Asal-Usul Nama “Indonesia”



Jauh sebelum Proklamasi Kemerdekaan, nama Indonesia sudah berseliweran dalam banyak sekali acara politik kaum pergerakan: rapat akbar, agresi massa, pawai, famplet, koran, pemogokan, risalah-risalah, dan lain sebagainya.

Kapan nama Indonesia pertamakali dipergunakan? Siapa sang penemunya? Dan bagaimana nama tersebut diadopsi menjadi nama sebuah nation dan negara? Mungkin diantara kita masih ada yang belum mengetahuinya. Maklum, pelajaran sejarah di sekolah-sekolah tidak begitu serius memberitahu kita.

Padahal, menyerupai yang dikutip dari goodnewsfromindonesia.org, mengenal sejarah bangsa itu penting. Apalagi sejarah nama bangsa dan negara kita. Ingat, Pramoedya Ananta Toer, sastrawan terkemuka Indonesia yang banyak menulis novel sejarah, pernah bilang: “Kalau orang tak tahu sejarah bangsanya sendiri –tanah airnya sendiri– praktis jadi orang absurd di antara bangsa sendiri.”



1. Nama “Indonesia” pertamakali muncul di tahun 1850, di sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang terbit di Singapura. Penemunya ialah dua orang Inggris: James Richardson Logan dan George Samuel Windsor Earl. Saat itu, nama Hindia—nama wilayah kita dikala itu—sering tertukar dengan nama tempat lain. Karena itu, keduanya berpikir, tempat jajahan Belanda ini perlu diberi nama tersendiri. Earl mengusulkan dua nama: Indunesia atau Malayunesia. Earl sendiri menentukan Malayunesia. Sedangkan Logan yang menentukan nama Indunesia. Belakangan, Logan mengganti karakter “u” dari nama tersebut menjadi “o”. Jadilah: INDONESIA.



2. Nama Indonesia kemudian dipopulerkan oleh seorang etnolog Jerman, Adolf Bastian. Dia mempopulerkan nama Indonesia melalui bukunya, Indonesien Oder Die Inseln Des Malayischen Archipelsdan Die Volkev des Ostl Asien. Bastian sendiri mengunjungi Indonesia empat kali. Di bukunya, Bastian memakai kata Indonesia untuk merujuk pulau besar—Jawa, Sumatera, Borneo (Kalimantan), Celebes (Sulawesi), Molukken (Maluku), Timor, sampai Flores—dan deretan pulau-pulau yang mengitari pulau tersebut.



3. Penjajah Eropa, baik Belanda maupun Portugis, menamai negeri kita ini: India. Namun, semoga tidak sama dengan nama India, maka ditambahi karakter ‘H’ di depannya menjadi: Hindia. Di bawah penjajahan Belanda, negeri kita disebut Nederlandsch-Indie, yang berarti ‘Hindia kepunyaan Belanda’. Di bawah penjajahan Portugis, namanya ‘Hindia kepunyaan Portugis’. (Pramoedya Ananta Toer, Angkatan Muda Sekarang, 1999).



4. Tahun 1913, Soewardi Soerjaningrat alias Ki Hajar Dewantara mendirikan Kantor Berita untuk bumiputera di Den Haag, belanda. Namanya: Indonesische Persbureau, disingkat IP. Saat itu Ki Hajar sedang menjalani pembuangan di negeri Belanda akhir acara politiknya di tanah air.



5. Sebelumnya, di tahun 1912, Ki Hajar bersama dua kawannya, Ernest Douwes Dekker dan Tjipto Mangkukusumo, mendirikan partai politik berjulukan Indische Partij (IP). IP merupakan organisasi politik pertama yang terang-terangan memperjuangkan kemerdekaan Hindia—terpisah dari kolonialisme Belanda. Saat itu, IP mengusulkan semoga nama negeri kita ini ialah Hindia. Slogan IP yang terkenal: Hindia untuk Hindia! Sayang, proposal IP ini kurang berterima luas di kalangan kaum pergerakan.



6. Pada bulan Februari 1922, para pelajar Indonesia di negeri Belanda setuju mengadopsi nama Indonesia. Mereka mengubah nama organisasinya dari Indische Vereeniging menjadi Indonesische Vereeniging. Kemudian, di tahun 1924, koran organisasi ini, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka. Setahun kemudian, giliran namaIndonesische Vereeniging resmi diubah menjadi Perhimpunan Indonesia (PI).



7. Di tanah air, organisasi politik yang pertama sekali memakai nama Indonesia ialah Partai Komunis Indonesia (PKI). Itu terjadi pada tahun 1924. PKI sendiri bangkit tanggal 23 Mei 1920, dengan nama Perserikatan Komunis Hindia. Baru pada bulan Juni l924, melalui sebuah Kongres di Weltevreden, Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia.



8. Pada tahun 1927, Soekarno bersama Tjipto Mangunkusumo serta kawan-kawannya di Algemene Studieclub mendirikan gerakan politik nasionalis berjulukan Perserikatan Nasional Indonesia (PNI). Setahun kemudian, Perserikatan Nasional Indonesia berganti nama menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI). Soekarno dan PNI punya donasi besar dalam mempopulerkan nama Indonesia di kalangan rakyat jelata: petani, buruh, dan kaum gulung tikar lainnya.



9. Pada tahun 1928, Kongres Pemuda Indonesia ke-2 mengikrarkan ‘satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa: INDONESIA”. Sejak itulah Indonesia sebagai nama dari sebuah negeri yang diperjuangkan makin berterima luas di kalangan kaum pergerakan dan rakyat banyak. Dua tahun sebelumnya, Wage Rudolf Supratman membuat lagu berjudul “Indonees, Indonees”, yang kemudian di tahun 1944 diubah menjadi “Indonesia Raya”. Lagu itu diperdengarkan tanpa lirik oleh WR Soepratman di Kongres Pemuda Indonesia ke-2 di gedung Indonesische Clubgebouw, Jalan Kramat Raya 106, Jakarta, tahun 1928. Sejak itulah keinginan “Indonesia Raya” bergema di hampir semua pulau-pulau sepanjang Semenanjung Malaya sampai Papua. Tahun 1937, di Malaya (sekarang Malaysia), bangkit organisasi nasional berjulukan Kesatuan Melayu Muda (KMM). Dalam programnya, KMM menyatakan ingin mempersatukan Malaya ke dalam satu ikatan dengan ‘Indonesia Raya’.



10. Tetapi Pramoedya Ananta Toer kurang oke dengan nama Indonesia. Menurutnya, penggunaan nama itu kurang politis dan ahistoris. Kata Pram, Indonesia berarti kepulauan India; belum keluar dari cara kolonialis menamai negeri kita. Pram sendiri mengusulkan dua nama yang dilahirkan oleh sejarah bangsa ini, yaitu Nusantara dan Dipantara. Nusantara muncul semasa dengan Majapahit, yang berarti: kepulauan Antara (dua benua). Sedangkan Dipantara muncul di kala Singasari, yang berarti: Benteng Antara (dua benua).



Sumber:
 
Copyright © 2014 All about wedding

Powered by Themes24x7