
Bulan terbesar di planet Saturnus, Titan, mengalami proses "muda" kembali sesudah sebagian besar kawahnya tertutup bukit pasir. Menurut pemantauan yang dilakukan wahana milik NASA, Cassini, pasir hidrokarbon di permukaan Titan, perlahan tapi pasti, menutup kawah.
Mayoritas dari satelit milik Saturnus mempunyai ribuan kawah. Sedangkan dari 50 persen permukaan Titan yang diobservasi, hanya ditemui 60 kawah. Ini menciptakan para pakar sulit memperkirakan berapa tepatnya usia Titan. Karena kawah yang lebih banyak, artinya makin bau tanah pula sebuah planet atau satelit.
"Sangat mungkin masih banyak kawah di permukaan Titan. Tapi mereka tidak terlihat dari luar angkasa alasannya terkikis," kata Catherine Neish, anggota tim radar Cassini
Neish dan kolega biasanya memperkirakan usia sebuah planet dengan menghitung jumlah kawah di atas permukaannya. "Tapi proses menyerupai pengikisan atau bukit pasir yang mengisinya (kawah), sangat mungkin bila permukaannya jauh lebih bau tanah dari yang terlihat," tambah Neish yang juga menulis makalah soal ini dalam jurnal Icarus pada 3 Desember 2012.
Titan yaitu satu-satunya bulan dalam sistem tata surya insan dengan atmosfer tipis. Satu-satunya pula benda langit selain Bumi yang diketahui mempunyai danau dan bahari di permukaannya.
Meski demikian, Titan mempunyai suhu ekstrem bagi manusia. Di mana suhu permukaannya mencapai minus 178 Celcius. Hujan yang turun di Titan pun bukanlah air, melainkan metana dan etana cair, senyawa yang biasanya menjadi gas di Bumi.
Neish dan timnya menyimpulkan inovasi ini sesudah membandingkan kawah di permukaan Titan dengan salah satu bulan milik Jupiter, Ganymede. Bulan terakhir disebut hampir menyerupai Titan dan mempunyai kerak es.
Dengan demikian, kawah di kedua permukaannya harusnya mempunyai bentuk sama. Perbedaannya, Ganymede nyaris tidak mempunyai atmosfer, angin, atau hujan untuk mengikis permukaannya
Sumber: