
Ahli paleontologi telah mengungkapkan sisa-sisa fosil Machimosaurus rex, buaya raksasa sepanjang 10 meter yang beratnya diperkirakan hingga tiga ton. Jenis buaya ini diyakini sebagai buaya bahari terbesar di dunia, ditemukan terkubur di tepi Sahara.
Fosil, termasuk tengkorak dan segelintir tulang lainnya, ditemukan oleh Federico Fanti dari University of Bologna di Italia dan rekan dengan proteksi dari National Geographic Society.
Studi terbaru mengungkap usia fosil yang ditemukan di wilayah Tataouine di Tunisia tersebut, sekitar 130 juta tahun, yang memperlihatkan bahwa hewan-hewan besar masih hidup selama periode Cretaceous.
Selain ukurannya, Machimosaurus rex tampak ibarat buaya modern yang kita jumpai hari ini kecuali untuk moncong sempitnya, yang memungkinkannya untuk berenang di laut.

'Machimosaurus ialah puncak dari rantai masakan dalam lingkungan laguna yang luas yang terletak antara wilayah kering Sahara dan lautan Tethys yang pernah memisahkan Afrika dan Eropa.
Gigi karnivora ini mungkin menawarkan sebuah petunjuk ibarat apa keadaan bahari pada zaman dahulu. "Machimosaurus rex mempunyai gigi yang padat, cukup pendek dan bulat." kata Fanti. "Dan tengkorak besar yang ia miliki juga bisa menawarkan kekuatan yang luarbiasa pada gigi-giginya." Dengan kelebihan ini, Fanti memperlihatkan bahwa buaya jenis ini merupakan pemburu generalis yang memakan aneka macam jenis binatang termasuk penyu bahari besar, krn mereka bisa menghancurkan cangkang padat penyu besar, yang fosilnya banyak ditemukan bersama dengan M. rex.'
Machimosaurus muncul di bahari dan tempat pesisir sekitar 150 juta tahun yang lalu, pada periode Jurassic akhir.
Fosil-fosil yang ditemukan di Eropa dan Amerika Utara memperlihatkan bahwa dikala ini beberapa kelompok reptil bahari melewati masa krisis dan keanekaragaman hayati mereka jatuh drastis.
Untuk alasan inilah, transisi dari periode Jurassic ke Cretaceous telah usang dipertimbangkan sebagai periode kepunahan di tingkat global.
Machimosaurus rex dan spesies fosil lain yang ditemukan di Tunisia bertanggal kembali ke 130 juta tahun yang lalu, yang artinya mereka masih hidup selama Cretaceous, sekitar 25 juta tahun sehabis masa kepunahan global yang diduga. Ini memperlihatkan bencana kepunahan tidak pada tingkat global ibarat yang dipikirkan para jago paleontologi.
Penemuan ini menawarkan data gres untuk menafsirkan bencana simpulan Jurassic, krisis biologis masih kurang dipahami dibandingkan dengan bencana serupa lainnya, ibarat kepunahan populer pada simpulan periode Cretaceous, yang mengakibatkan hilangnya dinosaurus.
Salah satu misteri yang luar biasa ialah mengapa buaya bahari ini tidak merebut kembali kejayaan mereka. Meskipun keluarga dari Machimosaurus rex bertahan lebih usang dari perkiraan, mereka tidak terlihat untuk berkembang ketika mereka berada di masa Jurassic.

"Hewan ini mungkin seekor predator penyergap, berkeliaran di peraiaran dangkal untuk memburu penyu dan ikan dan kemungkinan juga menunggu beberapa binatang yang berada di erat bibir pantai", kata Dr. Stephen Brusatte, spesialis paleontologi di University of Edinburgh di Skotlandia yang tidak terlibat dalam penelitian terbaru, kepada National Geographic.
"Ini ialah inovasi fosil terbaru dari salah satu bab bumi yang belum seluruhnya tereksplorasi secara baik,"
Buaya air tawar terbesar yang pernah ditemukan, Sarcosuchus imperator, hidup 110 juta tahun yang lalu, tumbuh sepanjang 40 kaki (12 meter), dan beratnya hingga delapan ton metrik (£ 17.500).
Tunisia, di mana fosil kerangka dan beberapa tulang ditemukan, dahulu ialah laguna menghadap bahari dan lingkungan itu dipenuhi oleh ikan-ikan besar dan penyu.