Galaksi kerdil merupakan istilah yang dipakai untuk galaksi kecil yang mempunyai luminositas dan massa yang rendah serta hanya dihuni oleh beberapa miliar bintang. Untuk Bima Sakti, penghuninya sekitar 200 – 400 juta bintang. Sekilas dapat kita katakan galaksi kerdil merupakan galaksi yang redup dan tentunya akan sulit untuk dapat diamati. Galaksi kerdil pada umumnya ditemukan di gugus galaksi yang menjadi pasangan bagi galaksi-galaksi besar.
Menurut teori pembentukan galaksi dan evolusinya, galaksi kerdil merupakan tipe galaksi yang melimpah di alam semesta. Jauh lebih banyak dari yang sudah ditemukan dikala ini. Tapi pada kenyataannya tidak demikian. Apakah ada yang salah dengan teori tersebut? Ataukah, galaksi kerdil memang sulit untuk dideteksi alasannya redup?
Apakah sesulit itu? Pengamatan terbaru mengindikasikan keberadaan galaksi kerdil yang masih tersembunyi di alam semesta. Ini dapat diketahui dari pengamatan pada gugus galaksi yang jaraknya 62 juta tahun cahaya dari Bumi.
Mengintai Dari Balik Persembunyian
Survei dan pengamatan yang dilakukan pada gugus galaksi Coma dan Mayang jadinya memberi titik terperinci bagi misteri “hilangnya galaksi kerdil di alam semesta”. Seperti detektif, tentunya para astronom harus dapat menemukan apakah memang galaksi kerdil itu melimpah dan hanya belum ditemukan ataukah memang jumlahnya sedikit di alam semesta.
Petunjuk itu berupa inovasi Ultra-Diffuse Galaxies (UDGs) pada gugus Coma dan Virgo. UDGs mempunyai massa yang rendah dengan diameter yang besar. Akibatnya galaksi ini mempunyai kecerlangan yang sangat rendah atau sangat redup untuk dapat diamati. Jika sebagian besar galaksi kerdil mempunyai kecerlangan menyerupai UDGs maka tentu sangat dapat dipahami mengapa kita kehilangan mereka di alam semesta.
Tapi, inovasi UDGs di gugus galaksi Coma dan Mayang menyisakan pertanyaan lain. Kedua gugus ini sama-sama masif. Pertanyaannya apakah UDGs ada di gugus galaksi lainnya yang berbeda dari gugus Coma dan Virgo?
Untuk menjawab pertanyaan itu, para astronom melaksanakan survei untuk mencari galaksi kerdil yang redup pada area sentra gugus galaksi Fornax yang berukuran 30 derajat persegi. Survei Next Generation Fornax Survey (NGFS) ini melaksanakan pengamatan dengan Kamera Energi Gelap yang dipasang di teleskop Blanco 4 meter di Chile dan difokuskan pada panjang gelombang tampak dan dekat-ultraungu. Meskipun survei masih tersu berlangsung, hasil awal dari survei ini berhasil mengungkap dongeng yang menarik bagi para astronom.
Apa itu?
Pada luas area pengamatan hanya 30 derajat persegi, para astronom berhasil menemukan 284 kandidat galaksi kerdil yang redup. Dan 158 di antaranya belum pernah terdeteksi sebelumnya. Da menariknya lagi, kandidat galaksi kerdil yang ditemukan mempunyai kemiripan dengan UDGs yang juga ditemukan di gugus Mayang dan Coma. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa keberadaan galaksi kerdil tidak hanya pada lingkungan gugus masif.
Satu kabar besar hati lagi, kandidat galaksi katai yang ditemukan ternyata ada yang kecerlangannya sangat rendah beberapa magnitudo dibanding UDGs yang sudah dikenal sebelumnya. Langkah selanjutnya yakni melaksanakan konfirmasi apakah kandidat yang dilihat tersebut memang galaksi kerdil ataukah bukan.
Galaksi kerdil mempunyai tugas penting alasannya sebagian besar bahan dari galaksi kerdil yakni bahan gelap, substansi misterius yang menyusun 80% bahan di alam semesta. Karena itu, inovasi galaksi kerdil menjadi sasaran utama untuk mengumpulkan petunjuk komposisi bahan gelap.



