Ilustrasi Liputan Khusus El Nino
Juanito Masangkay berjalan menembus gelap, menuju sawah. Bertani yaitu mata pencahariannya, tetapi malam itu tak sedang bercocok tanam. Alih-alih cangkul, justru busur panah yang tersandang di bahunya.
Sejak Februari lalu, hujan tak kunjung datang. Sawahnya kering kerontang. Tanaman padi tak mampu hidup. Menjuntai kering dan cokelat di sela retakan tanah. Mungkin hanya keajaiban yang dapat memunculkan bulir-bulir beras dari sana.
Maka, demi menghidupi istri dan 7 anaknya, laki-laki itu terpaksa jadi pemburu dadakan. Berburu tikus.
"Kadang kami memanggangnya. Bisa juga dibentuk adobo," kata beliau menyerupai dikutip dariInternational Business Times.
Adobo yaitu kuliner khas Filipina. Tumisan daging, kuliner laut, atau daunan dengan bumbu rendaman cuka vinegar, kecap kedelai, dan bawang putih. Bentuk alhasil sekilas menyerupai semur. Bagaimana rasa daging tikus? Menurut Masangkay, tidak mengecewakan sedap, "Mirip ayam."
Ekor binatang pengerat itu juga dapat ditukar jadi beras. Pemerintah Filipina menerapkan aktivitas pemberantasan hama pertanian: tikus yang ia makan itu.
"Kami memotong buntutnya, mengeringkannya, dan menukarkannya dengan beras," tambah Masangkay.
Para petani di Filipina menjadi salah satu korban pertama El Nino tahun ini. "Kami sudah mengalami isu terkini kering selama 3 bulan. Bahkan, semenjak Januari kemudian kami tak dapat menanam apa pun. Kami semua di Taculen berdoa hujan lebih sering turun," kata Benny Ramos, petani di wilayah Filipina selatan.
'Bocah lelaki' itu datang...
April lalu, para ilmuwan di Amerika Serikat mengumumkan El Nino telah tiba. Namun, kata mereka, "masih lemah".
Siklus cuaca alami, El Nino dimulai dengan pemanasan di Samudra Pasifik yang berujung pada distorsi teladan cuaca di seluruh dunia.
Pada pekan ini, peringatan tiba dari Badan Meteorologi Australia. Para andal di sana memprediksi El Nino dapat jadi fenomena ‘substansial’ pada September, yang akan membawa kekeringan, dan sebaliknya, banjir ke wilayah terdampak.
Pengamatan El Nino (NOAA) Pada insiden El Nino 2009 lalu, ladang gandum di Australia hancur, panen di sejumlah wilayah Asia gagal total. Akibatnya, harga pangan dunia melonjak: padi, jagung, kelapa sawit. Di India, banyak orang yang bunuh diri alasannya yaitu gagal panen dan terjerat utang -- insiden tragis yang kerap terjadi belakangan, ketika Bumi kian panas.
Namun, salah satu El Nino terparah dalam sejarah terjadi pada 1997-1998. Ada 24 ribu insan tewas kala itu, secara eksklusif maupun tak langsung. Kerugian ekonomi mencapai US$ 34 miliar.
Efeknya pun global. Curah hujan tinggi di Amerika dan Eropa memicu banjir besar. Sebaliknya, di Indonesia, India, Australia, dan Afrika terjadi kemarau panjang.
Tak hanya itu, api yang tersulut di hutan yang kering kerontang di Sumatra dan Kalimantan memicu kebakaran hebat, asap yang mencekik jalur napas menyebar hingga negeri jiran.
Kebakaran hutan di Indonesia (Reuters)
Para ilmuwan memperkirakan, jumlah energi panas yang membentuk El Nino 1997-1998 bahkan lebih dari sejuta kali bom atom Hiroshima.
Dan celakanya, itu berpotensi terulang tahun ini. Meski para ilmuwan belum dapat menebak kekuatannya.
"Kami belum pernah melihat gejala menyerupai ini terjadi di area tropis Samudra Pasifik semenjak 1997," kata ilmuwan iklim Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), Bill Patzert menyerupai dikutip dari The Blaze. "Belum dapat dipastikan apakah kita akan mengalami El Nino yang kuat. Tapi yang jelas, tanda-tandanya menguat."
Menurut Badan Kelautan dan Atmosfer AS atau National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), ketika ini ada 90 persen peluang bahwa El Nino akan berlanjut hingga isu terkini dingin. Kemungkinan fenomena alam itu makin panjang hingga awal isu terkini semi 2016 yaitu 80 persen.
"El Nino kali ini menjadi 'harapan besar' bagi orang-orang di pesisir barat Amerika Serikat. Untuk menyelamatkan mereka dari kekeringan," tambah Patzert. Kekeringan terutama terjadi di California.
Namun, kalau yang terjadi menyerupai 1997, itu akan jadi "sumber kekacauan".
El Nino yang terjadi pada 1997, 18 tahun lalu, memicu curah hujan 16 kali lebih besar dari biasanya. Wilayah pesisir Tumbes mengalami banjir besar, jalan masuk jalan terputus, sejumlah desa terisolasi selama berbulan-bulan.
Efeknya tak hanya dirasakan ketika itu, tapi bertahun-tahun setelahnya: mensugesti pertumbuhan belum dewasa yang lahir sesudah El Nino.
"Tingkat tinggi tubuh belum dewasa menyerupai bulat pohon. Bisa mengindikasikan terjadinya peristiwa alam," kata William Checkley dari Johns Hopkins University di Baltimore, Maryland menyerupai dikutip dari situs sains New Scientist.
Kondisi tersebut diduga akhir malnutrisi akhir jumlah pangan yang menurun ketika banjir, diare akhir mengonsumsi air tak bersih, juga kurangnya jalan masuk ke layanan kesehatan.
Tim yang dipimpin William Checkley mengunjungi 59 desa terdampak El Nino untuk mengukur tinggi dan berat tubuh lebih dari 2 ribu anak berusia antara 7-17 tahun.
Anak-anak dari desa terdampak El Nino mengalami pengurangan massa otot. Tinggi tubuh mereka berkurang 4 cm dari belum dewasa yang lahir sebelum insiden alam itu.
El Nino di Peru telah terjadi selama ribuan tahun.
Pusat Kerajaan Inca, Machu Picchu (www.uwosh.edu)
Di kuil Matahari dan Bulan Suku Inca di pegunungan Andes, para arkeolog menemukan 80 jasad manusia, yang diyakini tewas sebagai tumbal.
Dr Steve Bourget dari University of East Anglia yakin, manusia-manusia yang tinggal kerangka itu sengaja dikorbankan untuk menenangkan para dewa, biar menghentikan hujan angin puting-beliung selama El Nino.
"Di pantai utara Peru hampir tidak pernah hujan ... hujan menyerupai itu hanya terjadi selama Nino," kata beliau menyerupai dikutip dari BBC.
Bahkan kuil di atas gunung terancam tak lagi ajek berdiri. Tanah tempat bangunan itu berdiri kian terkikis guyuran air dari langit.
"Mereka mungkin melaksanakan pengorbanan. Mencoba dan menghentikan hujan." Sebuah upaya yang sia-sia, alasannya yaitu El Nino yaitu sejarah yang berulang.
El Nino dapat jadi pengulangan musibah. Sebelumnya, sebagian Bumi terpanggang gelombang panas. Terutama India dan Pakistan.
Pada Mei 2015 lalu, hampir 1.700 orang meninggal akhir terpapar suhu udara yang mencapai 48 derajat Celsius di India. Sedangkan, suhu di Pakistan sempat menyentuh angka 45 derajat Celcius dan menghabisi nyawa 1.500 orang.
Puncak El Nino tahun ini diperkirakan terjadi pada Oktober. "Intensitas tahun 2015 cenderung menguat sehingga dapat dimiripkan tahun 1997," ujar Kepala Bidang Informasi Iklim BMKG, Evi Lutfiati, ketika ditemui Liputan6.com di kantornya, Jakarta, Jumat 7 Agustus 2015.
Menurut BMKG, El Nino yang berlangsung semenjak Mei hingga Agustus ini masih berlevelmoderate alias menengah. Sebagian orang sudah mencicipi kekeringan, meski lainnya masih beruntung alasannya yaitu air masih mengucur dari keran.
Di Tulungagung, Jawa Timur. Musim kemarau menciptakan warga Desa Banyu Urip, Kecamatan Kalidawir memakai air keruh untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tak hanya untuk mandi, mencuci, dan memberi minum ternak, juga untuk minum serta memasak.
Sementara, padi di 70 hektare sawah Desa Bakung, Marosebo, Kabupaten Muaro Jambi pun mati. Padahal, usia tumbuhan itu gres 2 bulan.
Meski demikian, BMKG optimistis dampak kekeringan pada tahun ini berbeda dengan 1997. Pengalaman menciptakan pemerintah lebih siap.
"Dampak kekeringan 1997 hingga dengan 2015 beda. Penangannya lebih baik kini tentunya, instansi dan lembaga-lembaga sudah antisipasi dan siap dibandingkan tahun 1997," kata Evi.
Pada 24 September 1997, Departemen Sosial RI melaporkan 271 orang meninggal akhir peristiwa kelaparan di 22 desa dan 9 kecamatan di Kabupaten Jayawijaya dan Merauke.
Selama ini banyak yang menyalahartikan El Nino sebagai gelombang panas.
Sebenarnya, itu yaitu suatu fenomena alam yang ditunjukkan dengan adanya penyimpangan suhu permukaan bahari yang ada di wilayah sekitar ekuator Samudra Pasifik. Tepatnya di Samudra Pasifik bab tengah dan timur bersahabat Amerika Selatan.
Pengamatan El Nino (NOAA)
"Di situ suhu muka lautnya lebih panas. Di perairan wilayah Indonesia, maka masa uap air kita akan banyak bergerak ke wilayah timur dan tengah Pasifik. Sehingga wilayah kita kekurangan curah hujan," terang Evi.
Menurut dia, semakin berpengaruh El Nino, banyak pula massa uap air di Indonesia yang menuju ke wilayah Pasifik tengah dan timur. Tanah Air pun semakin kekurangan curah hujan atau kering.
El Nino biasa berlangsung selama 12-15 bulan. Namun, ia tiba secara bertahap, dari level lemah (weak), naik ke sedang (moderate), hingga mencapai level berpengaruh (strong).
Fenomena ini berulang 3-7 tahun sekali untuk level lemah dan sedang. Sementara, El Nino dengan intensitas berpengaruh berulang dapat lebih dari 10 tahun.
"Kita hitung saja dari 1997 ke 2015, kira-kira berapa tahun. Kemudian sebelum 1997 ada juga pada tahun 1982-1983, itu intensitasnya berpengaruh ya," terang Evi.
Datangnya El Nino di Indonesia pada tahun ini telah terdeteksi Mei. Sedang kondisi kekeringan sudah terlihat semenjak Juni di wilayah Timur.
"Memang kita sedang berlangsung isu terkini kemarau hingga dengan Agustus-September. Tapi memang tahun ini isu terkini kemarau kita dipengaruhi oleh fenomena El Nino dengan intensitas kalau hingga Juli kemarin itu moderate dan ini ada sinyal menguat pada Agustus. Nah, dampaknya kalau El Nino semakin menguat maka daerah-daerah kita semakin banyak kekeringan," tukas dia.
Namun, El Nino memberi laba sendiri pada Indonesia. Turunnya suhu bahari menjadikan Indonesia banjir ikan Yellow Fin Tuna dan Skip Jack Tuna. (Ein)
Sumber: