Wednesday, January 6, 2016
Fenomena Langit Bulan Januari
Mengawali tahun 2016, apa saja yang sanggup diamati di langit malam bulan Januari? Ada beberapa insiden langit menarik yang sanggup dimasukan dalam daftar. Di antaranyanya yaitu Hujan Meteor Quadrantid, komet Catalina juga okultasi Aldebaran. Tidak hanya itu. Empat planet akan tampak jelas di malam hari.
Jadi apa saja yang sanggup diamati?
Planet
Bulan Januari akan ada empat planet yang tampak dan sanggup diamati oleh mata tanpa alat.
Jupiter
Di awal Januari, Jupiter akan terbit di timur di kisaran jam 22.45 WIB dan mempunyai kecerlangan -2,2 magnitudo. Planet terbesar di tata Surya ini berada di rasi Leo. Di penghujung bulan Januari, Jupiter akan terbit jam 21.45 WIB dengan kecerlangan -2,4 magnitudo.
Mars
Planet merah ini akan terbit lewat tengah malam pada pukul 00.53 WIB di rasi Sunbulat dan bergerak ke Libra di pertengahan bulan Januari. Pada final bulan Januari, Mars akan terbit pukul 23.52 WIB. Kecerlangannya juga bertambah dari 1,3 ke 0,8 magnitudo selama bulan Januari.
Venus
Memulai bulan Januari 2016, Venus terbit jam 03.01 WIB atau 3 jam sebelum fajar di rasi Scorpius dan terus bergerak ke rasi Sagittarius. Venus akan tampak cemerlang di langit dengan kecerlangan -4 magnitudo.
Saturnus
Planet yang cincinnya selalu memukau para pengamat langit ini terbit 03.38 WIB di bab selatan Ophiuchus dan area capit Scorpius si kalajengking. DI final bulan Januari, Saturnus akan terbit jam 01:52 WIB. Kecerlangan planet ini yaitu 0,5 magnitudo.
Peristiwa
Komet Catalina
Komet yang satu ini masih melanjutkan perjalanannya menjauh dari Matahari dan ke luar dari Tata Surya. Kunjungannya yang cuma sekali ini masih sanggup dinikmati dengan Binokuler ataupun teleskop. Komet Catalina berada bersahabat bintang Arcturus tanggal 1 Januari dan akan mengarah ke Rasi Ursa Mayoris pada ketika papasan terdekatnya dengan Bumi tanggal 17 Januari. Komet ini akan mempunyai kecerlangan 5,5 magnitudo. Pengamatan sanggup dilakukan jelang dini hari sehabis rasi Bootes terbit.
Komet C/2013 US10 (Catalina) yang dipotret oleh tim TPOA dari Observatorium Bosscha. Kredit: Tim TPOA (Abdul Majid Al Kholish, Anies Averoes Habibi, Imanul Jihad, Robiatul Muztaba & Dr. Hakim L. Malasan.
2 Januari – Bulan Kuartir Akhir
Bulan terbit tengah malam dan karam siang hari. Bulan tampak dari tengah malam hingga jelang fajar.
3 Januari – Bumi di Perihelion
Bumi bergerak mengelilingi Matahari dalam lintasan elips. Artinya ada ketika dimana Bumi berada pada titik terdekatnya dengan Matahari dan ada kalanya Bumi berada sangat jauh dari Matahari. Pada tanggal 3 Januari, Bumi berada di titik terdekat dengan matahari pada jarak 0,98 AU atau 147,100,176 km dari Matahari.
4 Januari – Bulan – Mars
Bulan dan planet merah ini hanya terpisah 1,6º. Mars akan terbit terlebih dahulu pada pukul 00:47 WIB dengan kecerlangan 1,4 magnitudo dan disusul Bulan pada pukul 00:50 WIB, atau 3 menit kemudian dengan kecerlangan -10,51. Keduanya akan tampak berpasangan hingga fajar menyingsing.
4 Januari – Hujan Meteor Quadrantid
Hujan meteor tahunan Quadrantid kembali mengawali pertunjukan hujan meteor di tahun 2016. Quadrantid dimulai tanggal 28 Desember dan akan berakhir tanggal 12 Januari. Puncaknya tanggal 4 Januari dan arah datangnya dari rasi Bootes. Pengamatan sanggup dilakukan sehabis rasi Bootes terbit jam 3 dini hari hingga sebelum fajar.
7 Januari – Bulan, Venus, Saturnus
Tanggal 7 Januari dini hari, kau sanggup melihat Bulan dan kedua planet ini dalam sebuah kelompok kecil yang saling berdekatan. Bulan hanya terpisah 3,6º dari Venus maupun Saturnus. Ketiganya berada di rasi Scorpius dan Venus hanya terpisah 6,4º di arah Utara dari Antares. Bulan akan terbit pada pukul 03:05 WIB disusul Venus pukul 03:07 WIB dan Saturnus pada pukul 03:17 WIB. Bulan akan tampak cerlang dengan kecerlangan -8,67 magnitudo sedangkan Venus dan Saturnus akan mempunyai kecerlangan masing-masing -3,51 magnitudo dan 0,73 magnitudo.
9 Januari – Konjungsi Venus – Saturnus
Gunakan kesempatan untuk sanggup melihat Venus dan Saturnus yang hanya terpisah 0,1º. Dan Staurnus juga masih 7º dari Antares. Kecerlangan ketiganya yaitu Venus -3,5 magnitudo, Saturnus 0,73 magnitudo dan Antares 1,6 magnitudo. ketiganya terbit hampir bersamaan dengan Antares lebih dahulu terbit pada pukul 3 dini hari disusul Saturnus dan Venus dengan selang 9 dan 10 menit. Saturnus terbit pada pukul 03:09 WIB sedangkan Venus 03:10 WIB.
10 Januari – Bulan Baru
Bulan terbit di pagi hari ketika Matahari terbit dan terbenam bersama Matahari.
17 Januari – Bulan Kuartir Pertama
Bulan terbit jam 12 siang dan terbenam tengah malam
20 Januari – Bulan – Aldebaran
Bulan sedang di rasi Taurus dan berada bersahabat dengan bintang Aldebaran dan terpisah 0,5º. Bintang aldebaran akan mempunyai kecerlangan 0,87 magnitudo sedangkan Bulan akan sangat jelas dengan kecerlangan -12,22 magnitudo. Keduanya sanggup diamati hingga dengan terbenamnya Bulan dan rasi Taurus pada pukul 3 dini hari.
24 Januari – Bulan Purnama
28 Januari – Bulan & Jupiter
Papasan bersahabat Bulan dan Jupiter. Keduanya hanya terpisah 1,6º. Keduanya terbit hampir bersamaan di timur, diawali oleh Jupiter pada pukul 20:57 WIB dan disusul Bulan pada pukul 21:24 WIB. Keduanya akan berpasangan dan sanggup dinikmati kehadirannya hingga fajar menyingsing. Bulan akan mempunyai kecerlangan -11,93 sedangkan Jupiter akan tampak sebagai titik jelas dengan kecerlangan -1,91 magnitudo.
Jadi apa saja yang sanggup diamati?
Planet
Bulan Januari akan ada empat planet yang tampak dan sanggup diamati oleh mata tanpa alat.
Jupiter
Di awal Januari, Jupiter akan terbit di timur di kisaran jam 22.45 WIB dan mempunyai kecerlangan -2,2 magnitudo. Planet terbesar di tata Surya ini berada di rasi Leo. Di penghujung bulan Januari, Jupiter akan terbit jam 21.45 WIB dengan kecerlangan -2,4 magnitudo.
Mars
Planet merah ini akan terbit lewat tengah malam pada pukul 00.53 WIB di rasi Sunbulat dan bergerak ke Libra di pertengahan bulan Januari. Pada final bulan Januari, Mars akan terbit pukul 23.52 WIB. Kecerlangannya juga bertambah dari 1,3 ke 0,8 magnitudo selama bulan Januari.
Venus
Memulai bulan Januari 2016, Venus terbit jam 03.01 WIB atau 3 jam sebelum fajar di rasi Scorpius dan terus bergerak ke rasi Sagittarius. Venus akan tampak cemerlang di langit dengan kecerlangan -4 magnitudo.
Saturnus
Planet yang cincinnya selalu memukau para pengamat langit ini terbit 03.38 WIB di bab selatan Ophiuchus dan area capit Scorpius si kalajengking. DI final bulan Januari, Saturnus akan terbit jam 01:52 WIB. Kecerlangan planet ini yaitu 0,5 magnitudo.
Peristiwa
Komet Catalina
Komet yang satu ini masih melanjutkan perjalanannya menjauh dari Matahari dan ke luar dari Tata Surya. Kunjungannya yang cuma sekali ini masih sanggup dinikmati dengan Binokuler ataupun teleskop. Komet Catalina berada bersahabat bintang Arcturus tanggal 1 Januari dan akan mengarah ke Rasi Ursa Mayoris pada ketika papasan terdekatnya dengan Bumi tanggal 17 Januari. Komet ini akan mempunyai kecerlangan 5,5 magnitudo. Pengamatan sanggup dilakukan jelang dini hari sehabis rasi Bootes terbit.
2 Januari – Bulan Kuartir Akhir
Bulan terbit tengah malam dan karam siang hari. Bulan tampak dari tengah malam hingga jelang fajar.
3 Januari – Bumi di Perihelion
Bumi bergerak mengelilingi Matahari dalam lintasan elips. Artinya ada ketika dimana Bumi berada pada titik terdekatnya dengan Matahari dan ada kalanya Bumi berada sangat jauh dari Matahari. Pada tanggal 3 Januari, Bumi berada di titik terdekat dengan matahari pada jarak 0,98 AU atau 147,100,176 km dari Matahari.
4 Januari – Bulan – Mars
Bulan dan planet merah ini hanya terpisah 1,6º. Mars akan terbit terlebih dahulu pada pukul 00:47 WIB dengan kecerlangan 1,4 magnitudo dan disusul Bulan pada pukul 00:50 WIB, atau 3 menit kemudian dengan kecerlangan -10,51. Keduanya akan tampak berpasangan hingga fajar menyingsing.
Bulan-Mars. Kredit: Star Walk
4 Januari – Hujan Meteor Quadrantid
Hujan meteor tahunan Quadrantid kembali mengawali pertunjukan hujan meteor di tahun 2016. Quadrantid dimulai tanggal 28 Desember dan akan berakhir tanggal 12 Januari. Puncaknya tanggal 4 Januari dan arah datangnya dari rasi Bootes. Pengamatan sanggup dilakukan sehabis rasi Bootes terbit jam 3 dini hari hingga sebelum fajar.
Hujan meteor Quadrantid akan tampak dari rasi Bootes. Kredit: Star Walk
7 Januari – Bulan, Venus, Saturnus
Tanggal 7 Januari dini hari, kau sanggup melihat Bulan dan kedua planet ini dalam sebuah kelompok kecil yang saling berdekatan. Bulan hanya terpisah 3,6º dari Venus maupun Saturnus. Ketiganya berada di rasi Scorpius dan Venus hanya terpisah 6,4º di arah Utara dari Antares. Bulan akan terbit pada pukul 03:05 WIB disusul Venus pukul 03:07 WIB dan Saturnus pada pukul 03:17 WIB. Bulan akan tampak cerlang dengan kecerlangan -8,67 magnitudo sedangkan Venus dan Saturnus akan mempunyai kecerlangan masing-masing -3,51 magnitudo dan 0,73 magnitudo.
9 Januari – Konjungsi Venus – Saturnus
Gunakan kesempatan untuk sanggup melihat Venus dan Saturnus yang hanya terpisah 0,1º. Dan Staurnus juga masih 7º dari Antares. Kecerlangan ketiganya yaitu Venus -3,5 magnitudo, Saturnus 0,73 magnitudo dan Antares 1,6 magnitudo. ketiganya terbit hampir bersamaan dengan Antares lebih dahulu terbit pada pukul 3 dini hari disusul Saturnus dan Venus dengan selang 9 dan 10 menit. Saturnus terbit pada pukul 03:09 WIB sedangkan Venus 03:10 WIB.
10 Januari – Bulan Baru
Bulan terbit di pagi hari ketika Matahari terbit dan terbenam bersama Matahari.
17 Januari – Bulan Kuartir Pertama
Bulan terbit jam 12 siang dan terbenam tengah malam
20 Januari – Bulan – Aldebaran
Bulan sedang di rasi Taurus dan berada bersahabat dengan bintang Aldebaran dan terpisah 0,5º. Bintang aldebaran akan mempunyai kecerlangan 0,87 magnitudo sedangkan Bulan akan sangat jelas dengan kecerlangan -12,22 magnitudo. Keduanya sanggup diamati hingga dengan terbenamnya Bulan dan rasi Taurus pada pukul 3 dini hari.
Bulan dan Bintang Aldebaran. Kredit: Star Walk
24 Januari – Bulan Purnama
28 Januari – Bulan & Jupiter
Papasan bersahabat Bulan dan Jupiter. Keduanya hanya terpisah 1,6º. Keduanya terbit hampir bersamaan di timur, diawali oleh Jupiter pada pukul 20:57 WIB dan disusul Bulan pada pukul 21:24 WIB. Keduanya akan berpasangan dan sanggup dinikmati kehadirannya hingga fajar menyingsing. Bulan akan mempunyai kecerlangan -11,93 sedangkan Jupiter akan tampak sebagai titik jelas dengan kecerlangan -1,91 magnitudo.
Bulan dan Jupiter. Kredit: Star Walk
Sumber:
Hujan Meteor Quadrantid 2016
Setelah Komet Catalina berada bersahabat Arcturus dikala tahun gres dan Bumi berada di titik perihelion pada tanggal 3 Januari, maka kini giliran hujan Meteor Quadrantid yang akan beraksi di langit malam.
Hujan meteor tahunan yang satu ini selalu menjadi pembuka bagi serangkaian hujan meteor tahunan lainnya. Meskipun Hujan meteor Quadrantid jadi yang pertama di tahun 2016, tapi hujan meteor Quadrantid berlangsung semenjak 28 Desember hingga dengan 12 Januari. Menurut International Meteor Organization, hujan meteor Quadrantid tahun 2016 akan mencapai puncak pada tanggal 4 Januari pukul 15.00 WIB. Tidak mungkin bagi kita menikmati hujan meteor ini di siang hari alasannya rasi Bootes yang jadi arah tiba Quadrantid gres akan terbit pukul 3 dini hari.
Pengamatan Hujan Meteor Quadrantid
Bagi para pengamat langit, hujan meteor Quadrantid akan tampak tiba dari rasi Bootes dengan laju 120 meteor per jam dikala puncak. Meskipun demikian laju kehadiran meteor Quadrantid sanggup bervariasi antara 60 – 200 meteor per jam.
Bagi para pengamat di Bumi, meskipun hujan meteor Quadrantid merupakan salah satu hujan meteor tahunan yang ditunggu, tetap saja ada kendala!
Secara umum, hujan meteor Quadrantid paling baik dilihat oleh pengamat di penggalan bumi Utara, alasannya posisi radian atau arah datangnya hujan meteor Quadrantid di langit utara yang jauh lebih baik. Tapi, hambatan terbesar bagi pengamat di langit utara ialah cuaca animo hambar yang sedang melanda penggalan bumi utara. Hujan meteor Quadrantid juga sanggup dinikmati oleh pengamat di area tropis di selatan ekuator meskipun tidak sebaik pengamat di Utara dan banyaknya meteor yang sanggup dinikmati juga lebih sedikit.
Faktor terakhir yang jadi problematika pengamatan hujan meteor yang satu ini ialah redupnya hujan meteor Quadrantid sehingga diharapkan kondisi yang sangat sangat baik bagi pengamat untuk sanggup menikmatinya.
Bagi pengamat di Indonesia, hujan meteor Quadrantid akan tampak dari arah timur bahari sesudah tengah malam atau sesudah rasi Bootes terbit jam 03.00 WIB dini hari dan sanggup dinikmati hingga fajar menyingsing. Dalam peta bintang modern, Quadrantid akan tampak di area pertemuan rasi Bootes, Hercules dan Draco.
Dengan posisi rasi Bootes yang rendah dan bersahabat horison pengamat, maka sebaiknya pengamatan dilakukan dari lokasi yang area horison langitnya tidak tertutup gedung pohon dll. Selain itu diharapkan lokasi yang sangat gelap dan tidak terpengaruh polusi cahaya.
Kehadiran Bulan dengan kecerlangan -10,5 magnitudo dalam fase sabit 34% sanggup menjadi catatan tersendiri. Meskipun dmeikian pengamatan masih sanggup dilakukan. Selain hujan meteor Quadrantid, para pengamat juga sanggup menikmati kehadiran planet Jupiter, Mars, Venus dan Saturnus. Keempat planet ini akan terbit dimulai dari Jupiter pada pukul 22:33 WIB, disusul Mars pada pukul 00:47 WIB. Venus dan Saturnus akan terbit berurutan pada pukul 03:04 WIB dan 03:28 WIB.
Asal Usul Quadrantid
Hujan meteor Quadrantid mulai diamati pada tanggal 2 Januari 1825 oleh Antonio Brucalassi (Italia). Selain Antonio, kehadiran hujan meteor Quadrantid juga dilaporkan oleh Louis Francois Wartmann (Swiss) tanggal 2 Januari 1835 dan M. Reynier (Swiss) pada tanggal 2 Januari 1838. Akan tetapi, gres di tahun 1839, hujan meteor Quadrantid dipastikan sebagai hujan meteor tahunan dikala Adolphe Quetelet (Brussels Observatory, Belgia) dan Edward C. Herrick (Connecticut) melaksanakan pengamatan.
Setelah itu, hujan meteor yang mengawali tahun masehi ini pun dinamai Quadrantid. Agak abnormal alasannya hujan meteor ini tampak tiba dari rasi bootes. Nama Quadrantid dipakai alasannya dikala pertama kali diamati, hujan meteor ini tampak tiba dari rasi kuno Quadrans Muralis. Rasi bintang ini sanggup ditemukan di atlas bintang awal masa ke-19 di antara rasi Draco, Hercules dan Bootes.
Rasi Quadrans Muralis kemudian ditiadakan dari peta bintang, bersama dengan beberapa konstelasi lainnya di tahun 1922 dikala International Astronomical Union (IAU) mengadopsi 88 rasi untuk dimasukan dalam peta bintang modern. Quadrantid kemudian “direlokasi” ke konstelasi Bootes sesudah Quadrans Muralis tiada. Akan tetapi nama Quadrantid tetap dipertahankan alasannya ada hujan meteor lainnya di bulan Januari yang diberi nama hujan meteor Bootids.
Pada tahun 1864, Alexander Stewart Herschel dari Inggris melaksanakan pengamatan Hujan Meteor Quadrantid dan berhasil melihat hujan meteor tersebut dengan laju yang cukup tinggi yakni 60 meteor.
Sampai dengan tahun 2003, belum diketahui dengan niscaya asal ajakan meteor Quadrantid. Di tahun yang sama, Peter Jenniskens dari NASA menemukan bukti jikalau meteor Quadrantid ini berasal dari 2003 EH1, asteroid yang hancur sekitar 500 tahun lalu. Orbit Bumi berpotongan tegak lurus dengan orbit 2003 EH 1, yang artinya Bumi akan bergerak cepat melewati puing-puingnya. Akibatnya hujan meteornya menjadi sangat singkat.
Selamat berburu meteor. Clear Sky!
Hujan meteor Quadrantid akan tampak dari rasi Bootes. Kredit: Star Walk
Hujan meteor tahunan yang satu ini selalu menjadi pembuka bagi serangkaian hujan meteor tahunan lainnya. Meskipun Hujan meteor Quadrantid jadi yang pertama di tahun 2016, tapi hujan meteor Quadrantid berlangsung semenjak 28 Desember hingga dengan 12 Januari. Menurut International Meteor Organization, hujan meteor Quadrantid tahun 2016 akan mencapai puncak pada tanggal 4 Januari pukul 15.00 WIB. Tidak mungkin bagi kita menikmati hujan meteor ini di siang hari alasannya rasi Bootes yang jadi arah tiba Quadrantid gres akan terbit pukul 3 dini hari.
Pengamatan Hujan Meteor Quadrantid
Bagi para pengamat langit, hujan meteor Quadrantid akan tampak tiba dari rasi Bootes dengan laju 120 meteor per jam dikala puncak. Meskipun demikian laju kehadiran meteor Quadrantid sanggup bervariasi antara 60 – 200 meteor per jam.
Bagi para pengamat di Bumi, meskipun hujan meteor Quadrantid merupakan salah satu hujan meteor tahunan yang ditunggu, tetap saja ada kendala!
Secara umum, hujan meteor Quadrantid paling baik dilihat oleh pengamat di penggalan bumi Utara, alasannya posisi radian atau arah datangnya hujan meteor Quadrantid di langit utara yang jauh lebih baik. Tapi, hambatan terbesar bagi pengamat di langit utara ialah cuaca animo hambar yang sedang melanda penggalan bumi utara. Hujan meteor Quadrantid juga sanggup dinikmati oleh pengamat di area tropis di selatan ekuator meskipun tidak sebaik pengamat di Utara dan banyaknya meteor yang sanggup dinikmati juga lebih sedikit.
Faktor terakhir yang jadi problematika pengamatan hujan meteor yang satu ini ialah redupnya hujan meteor Quadrantid sehingga diharapkan kondisi yang sangat sangat baik bagi pengamat untuk sanggup menikmatinya.
Bagi pengamat di Indonesia, hujan meteor Quadrantid akan tampak dari arah timur bahari sesudah tengah malam atau sesudah rasi Bootes terbit jam 03.00 WIB dini hari dan sanggup dinikmati hingga fajar menyingsing. Dalam peta bintang modern, Quadrantid akan tampak di area pertemuan rasi Bootes, Hercules dan Draco.
Dengan posisi rasi Bootes yang rendah dan bersahabat horison pengamat, maka sebaiknya pengamatan dilakukan dari lokasi yang area horison langitnya tidak tertutup gedung pohon dll. Selain itu diharapkan lokasi yang sangat gelap dan tidak terpengaruh polusi cahaya.
Hujan meteor Quadrantid akan tampak dari rasi Bootes. Selain itu para pengamat juga sanggup mengamati Jupiter, Mars, Venus dan Saturnus. Kredit: Star Walk
Kehadiran Bulan dengan kecerlangan -10,5 magnitudo dalam fase sabit 34% sanggup menjadi catatan tersendiri. Meskipun dmeikian pengamatan masih sanggup dilakukan. Selain hujan meteor Quadrantid, para pengamat juga sanggup menikmati kehadiran planet Jupiter, Mars, Venus dan Saturnus. Keempat planet ini akan terbit dimulai dari Jupiter pada pukul 22:33 WIB, disusul Mars pada pukul 00:47 WIB. Venus dan Saturnus akan terbit berurutan pada pukul 03:04 WIB dan 03:28 WIB.
Asal Usul Quadrantid
Hujan meteor Quadrantid mulai diamati pada tanggal 2 Januari 1825 oleh Antonio Brucalassi (Italia). Selain Antonio, kehadiran hujan meteor Quadrantid juga dilaporkan oleh Louis Francois Wartmann (Swiss) tanggal 2 Januari 1835 dan M. Reynier (Swiss) pada tanggal 2 Januari 1838. Akan tetapi, gres di tahun 1839, hujan meteor Quadrantid dipastikan sebagai hujan meteor tahunan dikala Adolphe Quetelet (Brussels Observatory, Belgia) dan Edward C. Herrick (Connecticut) melaksanakan pengamatan.
Setelah itu, hujan meteor yang mengawali tahun masehi ini pun dinamai Quadrantid. Agak abnormal alasannya hujan meteor ini tampak tiba dari rasi bootes. Nama Quadrantid dipakai alasannya dikala pertama kali diamati, hujan meteor ini tampak tiba dari rasi kuno Quadrans Muralis. Rasi bintang ini sanggup ditemukan di atlas bintang awal masa ke-19 di antara rasi Draco, Hercules dan Bootes.
Rasi Quadrans Muralis kemudian ditiadakan dari peta bintang, bersama dengan beberapa konstelasi lainnya di tahun 1922 dikala International Astronomical Union (IAU) mengadopsi 88 rasi untuk dimasukan dalam peta bintang modern. Quadrantid kemudian “direlokasi” ke konstelasi Bootes sesudah Quadrans Muralis tiada. Akan tetapi nama Quadrantid tetap dipertahankan alasannya ada hujan meteor lainnya di bulan Januari yang diberi nama hujan meteor Bootids.
Pada tahun 1864, Alexander Stewart Herschel dari Inggris melaksanakan pengamatan Hujan Meteor Quadrantid dan berhasil melihat hujan meteor tersebut dengan laju yang cukup tinggi yakni 60 meteor.
Sampai dengan tahun 2003, belum diketahui dengan niscaya asal ajakan meteor Quadrantid. Di tahun yang sama, Peter Jenniskens dari NASA menemukan bukti jikalau meteor Quadrantid ini berasal dari 2003 EH1, asteroid yang hancur sekitar 500 tahun lalu. Orbit Bumi berpotongan tegak lurus dengan orbit 2003 EH 1, yang artinya Bumi akan bergerak cepat melewati puing-puingnya. Akibatnya hujan meteornya menjadi sangat singkat.
Selamat berburu meteor. Clear Sky!
Sumber:
Subscribe to:
Comments
(
Atom
)